Postingan

Serayu Merayu

Gambar
Saya terbangun ketika sadar kereta yang saya tumpangi sedang berhenti di stasiun Cikarang. Sambil mengucek mata dan mengumpulkan nyawa, saya melirik jam di gawai. Bahkan belum genap satu jam kereta berangkat tapi saya sudah tertidur pulas. Ini tentu akibat dari semalam yang tiada bertemu nyenyak selama di kereta Brantas menuju Jakarta. Tiketnya memang saya dapatkan cukup dadakan, dan yang tersisa hanya nomor-nomor tempat duduk yang kurang ideal. Ditambah pula setibanya di Pasar Senen pagi-pagi buta, berjam-jam setelahnya hanya saya habiskan dengan luntang-lantung tak jelas untuk menunggu kereta berikutnya. Sedangkan tiket kereta api Serayu seharga 67 ribu rupiah, sudah saya tebus terlebih dahulu. Pagi itu kereta akan membawa saya dari Jakarta menuju Purwokerto. Saya sengaja melakukan perjalanan menggunakan kereta api kelas ekonomi secara estafet. Ide ini tercetus begitu saja ketika saya merasa sedang butuh pelarian dari rutinitas pekerjaan. Mungkin ini terdengar agak kurang waras untuk...

Ketika Januari Bersenandung Bagian Kedua: Banda Neira

Gambar
Setelah mengejutkan publik dengan kemunculannya kembali setelah hiatus selama hampir 8 tahun lamanya, Banda Neira seakan belum puas memberi kejutan-kejutan lain kepada pendengarnya. Lagu tunggal Tak Apa Akui Lelah resmi meluncur sesaat setelah mengaktifkan kembali media sosialnya. Lalu diikuti dengan album penuh ketiga Tumbuh dan Menjadi yang berisi 9 lagu yang sudah tersedia di kanal layanan musik digital pada 1 November silam. Rupanya tak hanya itu, selang beberapa saat kemudian mereka mengumumkan akan menggelar pertunjukan spesial di Solo pada 21 Desember, yang kemudian langsung habis diserbu para pendengar yang ingin menyaksikannya langsung. Kabar baiknya, konser yang sama akan diadakan pula di kota-kota lain dalam serangkaian tur meliputi Jawa dan Bali. Tak perlu berpikir lama, tiketnya saya dapatkan dengan cukup mudah. Kesempatan ini mungkin saja tak datang dua kali, pikir saya. Tibalah di hari pertunjukan, yang hanya berjarak beberapa hari seusai menyaksikan Adhitia Sofyan b...

Ketika Januari Bersenandung Bagian Pertama: Adhitia Sofyan

Gambar
Hampir pukul 7 malam saya tiba di sebuah kedai kopi di sudut Jalan Rinjani, dengan suasana lampu-lampu kuning yang memberi kesan hangat. Beberapa orang sudah berkerumun, satu dua meja terisi, dikelilingi sekelompok teman dekat atau mungkin juga keluarga terkasih. Sambil berbincang, menghadap layar laptop yang menyala, ditemani gelas-gelas plastik es kopi susu yang meninggalkan jejak basah di meja. Tetapi saya datang ke sini tak benar-benar hendak minum kopi. Beruntung langit sedang berbaik hati malam itu, mengingat dua hingga tiga hari ke belakang, hujan seakan tak ada hentinya sedari sore hingga tengah malam. Sebelum tiba, saya sudah menyiapkan mental, setidaknya sejak beberapa minggu terakhir. Sebagai seorang introvert akut, saya perlu berpikir seribu kali untuk menghadapi keramaian. Tetapi saya sudah kadung janji dengan seorang kawan, bahwa saya bertekad menjalani tahun yang baru ini dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan, meski kabar berita seolah tiada habisnya datang membuat...

Banda Neira yang Kembali Berlayar Lebih Jauh

Menjelang penghujung Oktober lalu, kembali aktifnya media sosial X Banda Neira mengejutkan linimasa. Para pendengarnya pun bertanya-tanya, apakah ini pertanda mereka akan melakukan reuni, atau ada sesuatu yang lain? Seperti yang kita tahu, band yang awalnya digawangi duo Ananda Badudu dan Rara Sekar ini, dinyatakan bubar di tahun yang sama ketika album kedua Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti (2016) dirilis. Selama hampir 8 tahun semenjak itu, dalam rentang waktu yang lebih panjang daripada masa aktif mereka sebagai sebuah band, lagu-lagu Banda Neira terus dihidupi dan menemui para pendengarnya lebih banyak lagi, serta menemani mereka saat melewati masa-masa sulitnya. Selama itu pula pendengarnya menanti-nanti kapan mereka akan kembali bermusik bersama membawa nama Banda Neira. Rara Sekar sendiri telah memulai proyek musik bernama hara , sementara Ananda Badudu juga sempat menjalankan proyek solo. Kini Banda Neira akhirnya resmi kembali berlayar, menjawab semua kerinduan pende...

Mendengarkan Kembali: Roekmana's Repertoire (2013)

Gambar
Pada pertengahan Juli lalu, Roekmana's Repertoire secara resmi mulai tersedia di kanal layanan musik digital. Perlu waktu lebih dari sepuluh tahun bagi album yang dirilis pada 2013 silam ini akhirnya dapat dinikmati para pendengarnya melalui gawai masing-masing. Zaman terus berubah, begitu pula cara kita untuk mendengarkan musik. Tigapagi boleh dibilang sedikit terlambat untuk menghadirkan kembali album yang awalnya lahir dalam format fisik ini ke dalam bentuk digital. Idealisme mungkin menjadi salah satu alasan mereka, hal yang pernah dilakukan musisi-musisi lainnya untuk menjaga karyanya agar tetap eksklusif. Di mana format rilisan fisik entah itu kaset, CD ataupun vinyl masih diutamakan untuk menyebarluaskan karya. Atau mungkin saja beberapa urusan memang perlu waktu untuk dibereskan, karena konon royalti yang didapat dari kanal musik digital bisa dibilang tak seberapa. Tahun lalu sebetulnya digipack CD Roekmana's Repertoire edisi khusus dirilis ulang dalam jumlah terb...

Tiga Puluh Tiga, Seperti Hari-hari yang Lain

Gambar
Tepat hari ini saya resmi berusia tiga puluh tiga. Seperti hari-hari yang lain, tampaknya saya akan menghabiskan hari ini dengan biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa. Tidak ada perayaan atau semacamnya, seperti tahun-tahun yang lalu. Beberapa waktu yang lalu saya sempat akan merencanakan sesuatu pada hari ini. Mengambil jatah cuti kerja barang satu atau dua hari, sekadar bersantai di rumah atau berpergian ke suatu tempat yang dekat-dekat saja, lalu berkeliling sebentar atau mencari makanan khas yang ingin saya cicipi. Namun rencana hanyalah rencana, beberapa pekerjaan perlu dibereskan, dan kali ini memang sedang tidak bisa ditunda-tunda. Di hari bertambahnya umur ini, sebetulnya dua tahun ke belakang saya mempunyai perayaan kecil, itu juga kalau pantas disebut perayaan. Saya mengajak serta seorang kawan lama, yang kebetulan memiliki hari lahir hanya berselisih satu hari. Kami berpergian bersama, ketika keadaan telah pulih seperti sedia kala, setelah kita semua melalui hari-hari...

Pada Hari-hari yang Berbeda

Gambar
Dua ribu dua puluh empat tak terasa sudah tiba di bulan Juni, bulan keenam dalam kalender Masehi. Seketika saja separuh tahun hampir terlewati lagi. Hari demi hari, tahun demi tahun berlalu. Blog ini seakan mati suri, tak berpenghuni tanpa suatu postingan apapun. Terhitung sudah lima tahun silam sejak tulisan panjang terakhir saya terbitkan. Itupun juga tulisan lama yang mengendap di draft , yang akhirnya saya selesaikan juga bertahun setelahnya. Masih adakah yang setia membaca blog di tahun 2024? Di era sekarang ini, di mana segala sesuatunya bergerak dengan cepat, dan segala macam rupa informasi datang silih berganti tanpa ampun, rasa-rasanya blog adalah sesuatu yang usang dan sudah ditinggalkan. Hadirnya media sosial yang terus berkembang tentu menjadi salah satu sebab. Berbagai informasi berbasis foto, gambar, ataupun video berdurasi singkat lebih disukai banyak orang karena bisa selesai dalam sekali menggulung layar gawai. Berbeda sekali dengan blog yang harus duduk tenang-tenang...