Postingan

Menampilkan postingan dengan label Lasem

Lasem di Penghujung Tahun

Gambar
Kami bersyukur, Lasem sedang diberkahi langit yang cerah pagi itu. Sebuah pagi di penghujung Desember yang selalu berkawan dengan langit kelabu, genangan di sisi jalan, atau ujung celanamu yang basah. Beberapa saat sebelumnya, saya dan Ary tiba di Lasem, setelah menempuh lebih dari tiga jam perjalanan darat dari Semarang. Bergerak ke arah timur, menyusuri jalur pantura Kudus, Pati hingga Rembang yang cukup lengang. Meski begitu, truk-truk besar yang berjalan merayap, serta bus-bus yang melaju kesetanan masih saja menjadi kawan perjalanan yang paling setia. Semua bermula pada sebuah pagi di taman yang sejuk. Aryanto , seorang kawan yang saya kenal melalui tulisan-tulisan di blognya, sedang transit sebentar di Semarang sebelum melanjutkan perjalanannya. Kami menyempatkan untuk bertemu meski sebentar. Berbincang tentang banyak hal, berbagi pengalaman dan cerita, sambil berjalan kaki berkeliling di sekitar kawasan Kota Lama . Lasem yang sedang diberkahi langit cerah. Dari perbin...

Kisah di Balik Tembok-tembok Tinggi Lasem

Gambar
Pintu berwarna hijau kusam itu belum sepenuhnya terbuka, ketika suara gonggongan anjing yang berasal dari beranda rumah menyambut kedatangan kami. Menyadari kehadiran orang asing di wilayah kekuasaannya. Padahal, kaki saya pun belum sepenuhnya turun dari pijakan kaki sepeda motor. Cahaya temaram dari lampu bohlam yang digantungkan di atas pintu, seakan tak berdaya menyinari jalanan Karangturi gang IV yang sepi ketika malam menjelang. Lagipula, hampir sepanjang sore tadi langit Lasem sedang berbaik hati, menurunkan berkah bagi bumi dan segala isinya berupa guyuran hujan yang cukup deras. Membuat sebagian besar penduduk Lasem lebih memilih berdiam diri di dalam rumah. Baca juga: Lasem dalam Lini Masa . Namun, gonggongan Roto (nama yang diberikan pada si anjing tersebut) tak berlangsung lama. Ketika saya, Mas Pop, diikuti oleh Mbak Lina dan Mas Donny melangkahkan kaki di beranda rumah, seketika itu juga Roto berhenti menggongong. Lalu memilih untuk mendekam di atas kursi ...

Lasem dalam Lini Masa

Gambar
Menyapa pegunungan Lasem ketika pagi hari. Sebelum benar-benar berangkat ke Lasem, saya telah membaca berbagai hal tentang Lasem dari berbagai macam sumber. Namun saya sadar, sebanyak apapun saya mencari tahu tentangnya, justru saya merasa semakin tak tahu apa-apa. Jadi, ketika akhirnya tiba di Lasem saya berusaha mengesampingkan semua yang saya ketahui tentangnya. Anggap saja saya sedang amnesia karena kepala terbentur tembok tempo hari. Ekspektasi saya tentu saja adalah bangunan-bangunan kuno, jalanan yang lengang dengan tembok-tembok tinggi di kanan-kirinya. Seakan mengurung harta terpendam yang tak ternilai dari Lasem, sebuah kota kecil di pantura Jawa Tengah. Yang terjebak dalam memori masa lalu, di tengah truk-truk besar yang berjalan merayap ataupun klakson bis-bis yang menyalak kesetanan. Saya mengawali perjalanan menuju Lasem dengan mengendarai sepeda motor seorang diri. Menyusuri jalur pantura Semarang, Kudus hingga Rembang bukan sesuatu hal yang mudah sebenarny...