Postingan

Menampilkan postingan dengan label Fiksi

Prasangka

Gambar
Oh, iya. Hai, selamat pagi!. Maaf, saya sampai lupa menyapa. Sebentar, saya harus mengatur napas dulu. Tarik, hembuskan. Tarik, hembuskan. Oke. Maklum, saya baru saja berlari sepanjang area parkir sampai peron stasiun tadi. Entah sudah berapa kali saya hampir menabrak orang, dan entah apa saja sumpah serapah yang mereka lontarkan pada saya karena secara tidak sopan sudah menyerobot antrean pemeriksaan tiket. Beruntung sekali saya kereta belum berangkat. Jika saya tidak berlari, bisa berantakan semua rencana saya. Dan melayanglah sudah tiket seharga seratus ribu yang sudah saya pesan sebelumnya. Ya, mungkin seratus ribu yang memang tidak seberapa seberapa untukmu yang hidupnya lebih dari berkecukupan. Tapi bagi saya yang hanya berpenghasilan pas-pasan ini, uang sebesar itu bisa untuk jatah ongkos hidup tiga hari ke depan.

Agustus, Sepenggal Kenangan

Gambar
Kita hanyalah dua orang manusia yang dipertemukan oleh sang waktu Berdua, Mencoba hindari celah hati Seiring langkah yang kita arungi Berdua, Terdiam dalam ragu yang membisu Tersamar dalam hening tanpa makna   Berusaha merangkai sepenggal kisah, walau tak berarah Lalu mata kita bertemu tatap Atau saat jemari kita bertautan, namun bukan karena nafsu Ada sesuatu yang berdesir disana Namun tanah terlalu kering untuk ditapaki Saat sebutir debu mencoba melawan laju angin yang menderas Percuma, Dan hanya bisa memaki takdir yang tak pernah berpihak Tak perlu menyalahkan hujan, Yang tak kunjung datang Mungkin Ia hanya sedikit terlambat Atau mungkin, Memang perasaan hati kita saja yang menderas tak berarah, Dan tak berujung Tak perlu ditangisi, sayang Semua akan ada masanya masing-masing Saat daun yang mengering gugur menanggalkan sang dahan Memilih terbang bersama angin yang bisa membawanya kemana pun Ia suka Agustus, 2013

Kau, Aku dan Setitik Rasa

Gambar
Kita, berdua diantara diam Sibuk dengan pikiran masing-masing yang entah melayang kemana Menerbangkan angan yang seakan tak pernah aku mengerti Kita, berdua diantara dua cangkir kopi Yang sama sekali tidak panas lagi Waktu terus berjalan tanpa peduli, meninggalkan aku dan sejuta pertanyaan Dan kita, masih dalam diam Waktu seakan tak mau mengerti, bahwa aku harus segera meninggalkan kota ini lagi   Perlahan aku mengangkat cangkirku, berniat untuk menghabiskan sisa kopi sebelum menjadi benar-benar dingin Menyesapnya cepat-cepat sembari berharap keheningan ini segera berakhir pula. Aku hanya perlu tahu apa yang ada dalam benakmu Kau ingin aku tetap tinggal? Kisah kita terselip di antara kaki-kaki yang terus melangkah Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya Melewatkan ribuan hari, entah apa yang dicari Jati diri? Atau hanya kesenangan semata? Lalu pertemuan denganmu di sebuah persimpangan jalan, yang ku anggap hal yang biasa dari sekian banya...

Kosong

Gambar
"Kamu kenapa, diam saja dari tadi?" Aku menggeleng pelan, mencoba memberi respon seadanya. Itu adalah awal pertemuan pertama kita. Hampir tak ada percakapan berarti yang bergulir. Hanya sekedar basa-basi tak berbobot. Sesekali aku hanya mengangguk atau menggeleng pelan untuk merespon pembicaranmu. Aku meraih botol air mineral yang tinggal setengah, lalu menenggaknya sampi habis tak tersisa. Cukup pertemuan kita ini saja yang 'garing', jangan sampai tenggorokanku ikut-ikutan kering, karena Jogja siang itu memang cukup terik.   Entah kenapa penyesalan sering kali datang terlambat. Di saat kita baru menyadari sesuatu itu tak bisa kembali lagi. Dan kita terbunuh oleh kejamnya waktu, yang tak pernah sekalipun mengijinkan kita untuk bisa kembali ke masa yang telah lalu. Mencoba mengulangi apa yang telah terjadi, mengharapkan datang lagi semua yamg pernah terlalui. Aku hanya merasa beruntung sempat mengenalmu. Mendengar ceritamu, yang sebelumnya hany...