Postingan

Menampilkan postingan dengan label Situs

Candi Belahan, Petirtaan Raja di Lereng Penanggungan

Gambar
Air adalah peyangga hidup utama bagi makhluk hidup. Bagi manusia sendiri, air memiliki gerak kehidupan. Bumi ini menyediakan air melalui sumber mata air yang kemudian mengalir membentuk sungai-sungai bagai urat nadi manusia. Di sepanjang aliran sungai itulah terjadi gerak kehidupan, gerak peradaban. Candi di balik pagar. Peradaban besar di berbagai belahan bumi dibangun di tepian aliran sungai-sungai besar. Demikian pula di nusantara ini, sungai dan sumber air telah mewariskan peradaban yang panjang. Warisan peradaban masa lampau berupa situs dan benda bersejarah yang berhubungan dengan pemanfaatan dan pemaknaan air membuktikan hal ini. ***** Suara gemericik air dari balik pagar seakan mengundang siapapun untuk mendekat. Plang putih yang berukuran cukup besar bertuliskan Candi Belahan berada tepat di atas pagar, membuat siapapun yang melintas di jalan tersebut bisa membacanya. Plang tersebut pula yang akhirnya bisa meyakinkan saya, bahwa kami telah sampai di tempat yang b...

Sepasang Candi di Lumbung Padi

Gambar
Sidoarjo. Mendengar kata itu pikiran kita akan langsung tertuju pada peristiwa Lumpur Lapindo yang tak kunjung usai hingga saat ini itu. Hingga pada akhirnya, warga setempat yang juga korban terdampak lumpur, memanfaatkan lokasi semburan lumpur panas yang terletak di Porong, Sidoarjo tersebut untuk dibuka sebagai kawasan wisata bencana. Baca juga: Meneropong Porong Pertengahan tahun 2016 lalu, saya berkesempatan lagi untuk mengunjungi Surabaya karena suatu urusan. Seorang teman menyarankan saya untuk singgah lagi di Sidoarjo. Konon katanya, ada sebuah candi yang masih ada hubungannya dengan Majapahit, yang terletak tak jauh dari semburan lumpur Lapindo di Porong sana. Sedikit tersembunyi dari riuhnya lalu lintas di Jalan Raya Porong yang menghubungkan Surabaya-Malang. Ataupun peristiwa semburan lumpur itu sendiri. *** Saya dan Nita sempat kebingungan ketika memasuki jalan arteri baru Porong, salah-salah bisa masuk ke jalan tol Surabaya-Gempol dimana sepeda motor jelas-...

Kudus, Museum dan Sejarah yang Menyertainya

Gambar
Kudus Kota Kretek. Foto oleh: Risang Parikesit . Dua ribu tujuh belas tanpa terasa sudah berjalan beberapa pekan. Selama itu pula saya sedikit menahan diri untuk sekedar berpergian ataupun jalan-jalan ketika akhir pekan. Kebanyakan orang pun mungkin sama, cenderung malas untuk berpergian di bulan Januari. Karena memang di bulan tersebut, musim penghujan sedang memasuki masa puncaknya. Suatu pagi di bulan Januari yang sudah memasuki hitungan akhir. Sebuah sepeda motor berjalan pelan di antara kendaraan-kendaraan lain yang melaju kesetanan di jalur pantura Semarang-Demak. Dua orang penumpangnya masih tetap santai meski berkali-kali disalip oleh motor butut sekalipun, atau truk enam roda yang berjalan merayap karena kelebihan muatan. Bukannya tak mampu melaju lebih cepat, Mas Icang yang mengendarai motor tersebut harus selalu sigap mengantisipasi setiap lubang yang menganga di sepanjang jalan yang kami lalui. Maklumlah, musim hujan tak hanya berdampak pada sepatumu yang ha...

Lasem dalam Lini Masa

Gambar
Menyapa pegunungan Lasem ketika pagi hari. Sebelum benar-benar berangkat ke Lasem, saya telah membaca berbagai hal tentang Lasem dari berbagai macam sumber. Namun saya sadar, sebanyak apapun saya mencari tahu tentangnya, justru saya merasa semakin tak tahu apa-apa. Jadi, ketika akhirnya tiba di Lasem saya berusaha mengesampingkan semua yang saya ketahui tentangnya. Anggap saja saya sedang amnesia karena kepala terbentur tembok tempo hari. Ekspektasi saya tentu saja adalah bangunan-bangunan kuno, jalanan yang lengang dengan tembok-tembok tinggi di kanan-kirinya. Seakan mengurung harta terpendam yang tak ternilai dari Lasem, sebuah kota kecil di pantura Jawa Tengah. Yang terjebak dalam memori masa lalu, di tengah truk-truk besar yang berjalan merayap ataupun klakson bis-bis yang menyalak kesetanan. Saya mengawali perjalanan menuju Lasem dengan mengendarai sepeda motor seorang diri. Menyusuri jalur pantura Semarang, Kudus hingga Rembang bukan sesuatu hal yang mudah sebenarny...