Postingan

Meneropong Porong

Gambar
Dataran lumpur yang mengering dan sebuah patok bertuliskan angka 25, entah apa maknanya. Porong adalah sebuah Kecamatan yang terletak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Awalnya, kehidupan warga disana berlangsung baik-baik saja. Tentram dan damai. Namun sampai pada suatu saat, tepatnya tanggal 29 Mei 2006 mimpi buruk itu akhirnya menghampiri tanpa diminta dan mengubah segala kehidupan mereka. Semburan lumpur panas yang muncul dari dalam tanah, mengagetkan warga disalah satu desa di Kecamatan Porong. Awalnya memang tidak seberapa besar. Namun bukannya segera berhenti, semburan lumpur tersebut justru semakin membesar dari hari ke hari. Dan akhirnya menenggelamkan perkampungan, lahan pertanian dan kawasan perindustrian hanya dalam waktu beberapa bulan. Semakin meluas hingga tiga kecamatan lainnya. Peristiwa tersebut tentu saja langsung menggemparkan masyarakat Indonesia bahkan dunia. Saya masih ingat betul, waktu itu saya masih SMP. Dan fenomena semburan panas yang terjadi ...

Pada Suatu Sore yang Biasa

Gambar
Ada Pelangi di sore itu. Sore itu kami akhirnya tiba juga di Alun-alun Tulungagung. Atau lebih tepatnya Taman Aloon-aloon Kota Tulungagung. Setelah bersusah payah selama hampir satu jam. Berputar-putar, beberapa kali bertanya pada orang yang kami temui di jalan, dan akhirnya hampir nyasar. Padahal itupun kami sudah menggunakan aplikasi google maps sebelum ponsel saya mati karena kehabisan battery. "Gimana nih?" " Sek bentar, belum ada balesan.." Sahut Nita Menara Patung Garuda Sesuai dengan itinerary yang telah kami buat, seharusnya sore itu juga kami akan nanjak gunung Budheg. Namun dua orang teman kami yang sebelumnya setuju untuk bergabung mendadak batal. Padahal salah satunya adalah teman yang kami andalkan karena mengenal betul medan gunung Budheg meski ketinggiannya memang tak seberapa. Lagipula tak satupun dari kami berdua yang membawa tenda. Padahal kami berniat untuk camping di beberapa tempat. Dan satu-satunya tenda pinjaman...

Prasangka

Gambar
Oh, iya. Hai, selamat pagi!. Maaf, saya sampai lupa menyapa. Sebentar, saya harus mengatur napas dulu. Tarik, hembuskan. Tarik, hembuskan. Oke. Maklum, saya baru saja berlari sepanjang area parkir sampai peron stasiun tadi. Entah sudah berapa kali saya hampir menabrak orang, dan entah apa saja sumpah serapah yang mereka lontarkan pada saya karena secara tidak sopan sudah menyerobot antrean pemeriksaan tiket. Beruntung sekali saya kereta belum berangkat. Jika saya tidak berlari, bisa berantakan semua rencana saya. Dan melayanglah sudah tiket seharga seratus ribu yang sudah saya pesan sebelumnya. Ya, mungkin seratus ribu yang memang tidak seberapa seberapa untukmu yang hidupnya lebih dari berkecukupan. Tapi bagi saya yang hanya berpenghasilan pas-pasan ini, uang sebesar itu bisa untuk jatah ongkos hidup tiga hari ke depan.

Hanya Sebentar di Trowulan

Gambar
Setelah gagal menginjakkan kaki di Jawa Timur pada 2014 silam kemudian memilih berbelok ke Dieng , awal November 2015 lalu (duh nulisnya telat pake banget) akhirnya saya berkesempatan lagi mengunjungi Jawa Timur dengan cara yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Kenapa? Tidak akan saya ceritakan disini ya muehehehe :))) Bahkan perjalanan ke Jawa Timur ini nyaris tanpa rencana yang matang. Pokoke budhal..!!! :D Tempat pertama yang langsung melintas di pikiran saya waktu itu adalah Trowulan. Ya, saya harus kesana. Saya bukan mau sok-sokan belajar tentang sejarah, tapi mengunjungi tempat-tempat kekunoan seperti candi atau peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya selalu memberi kesan tersendiri bagi saya ketika berpergian.Sebagai upaya saya menghargai peradaban nenek moyang kita di masa lalu. Tidak akan ada masa sekarang jika tak ada masa lalu bukan? Dan masa lalu bukan hanya tentang mantan melulu kan? :p Mup on Gaessss!!!   Berbekal Rp.70.000 saya nekat memesan t...

Double Visit: Curug Lawe dan Benowo yang Tersembunyi

Gambar
Curug Benowo. Saya sudah sejak lama dibuat penasaran dengan  yang namanya Curug Lawe. Namun Curug Lawe ini berbeda dengan yang pernah saya kunjungi tahun lalu. Sebelumnya saya malah tidak tahu bahwa ada dua curug berbeda tapi bernama sama dan sama-sama berada di lereng Gunung Ungaran. Tahunya ya Curug Lawe yang berada di Medini, Kabupaten kendal yang pernah saya kunjungi itu.   Curug yang terletak di Desa Kalisidi , Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang ini menjadi semakin hits setelah muncul di acara jalan-jalan salah satu tivi nasional. Hal itu pula yang sempat membuat saya ragu untuk kesana, males dengan ramenya itu lho.   Maka demi menuntaskan rasa penasaran dan hasrat untuk nyurug (sebutan untuk berburu curug?) berangkatlah saya pada  Minggu (15/10/2015) siang menuju Curug Lawe. Kali ini saya tidak sendiri, saya berkoalisi #halah dengan adik saya. Sebelumnya dia berencana untuk monggok (sebutan untuk main ke Umbul Ponggok? Bahasa saya aneh ga...

Selingan Riang di Waktu Senggang

Gambar
gambar nyopet dari sini Saya berkenalan dengan musik Banda Neira baru pada awal 2015 lalu. Awalnya sekali-dua kali mendengar salah satu lagunya yang berjudul Hujan di Mimpi diputar di radio. Iya, radio masih menjadi andalan (halah!) dalam mencari referensi musik untuk saya dengarkan. Ketika musik sudah merambah di dunia digital dan internet, seperti Soundcloud , Youtube dan kawan-kawannya. Berawal dari penasaran, saya mulai mencari lebih banyak tentang Banda Neira ini. Terlebih lagi dari namanya saja unik. Diambil dari nama salah satu pulau di kepulauan Maluku sana. Seingat saya, dari pelajaran sejarah waktu sekolah dulu Banda Neira juga merupakan tempat dimana Bung Hatta pernah diasingkan. (Bener gak sih?) Adalah Ananda Badudu dan Rara Sekar , dua alumnus Universitas Parahyangan ini resmi memperkenalkan diri sebagai Banda Neira Neira pada awal 2012. Meski formatnya dua orang,  Ananda di gitar/vokal dan Rara di vokal dan kadang memainkan Xylophone sebagai sempilan...

Menengok Masa Lalu di Museum Kereta Api Ambarawa

Gambar
Stasiun Ambarawa. Entah sejak kapan saya suka dengan berbagai hal yang berkaitan dengan kereta api. Eh gak cuma kereta api ding, saya juga suka pesawat. Eh gak cuma pesawat, saya juga suka kapal. Intinya saya suka dengan benda mati yang bergerak. (maksudnya?) Ya misalnya moda-moda transportasi yang saya sebutkan tadi. Duh kok jadinya malah merembet kemana-mana ini ya. Padahal saya kali ini pengen ngomongin kereta api lho.   Ngomongin soal kereta api, saya pribadi lumayan sering menggunakan moda kereta api ketika berpergian jarak jauh. Kalau tujuannya masih bisa diakses dengan kereta api ya pasti naik kereta yang jadi pilihan utama. Kalau tidak memungkinkan baru menggunakan moda transportasi umum lain, misalnya bus atau yang lainnya. Lampu vintage ala ala. Korban mutilasi :( Kereta api juga erat kaitannya dengan sejarah bangsa Indonesia. Karena tahu sendiri lah kereta api (plus infrastrukturnya) ada kan berkat Pemerintah Kolonial belanda pas menjajah bangsa kit...