Postingan

Agustus, Sepenggal Kenangan

Gambar
Kita hanyalah dua orang manusia yang dipertemukan oleh sang waktu Berdua, Mencoba hindari celah hati Seiring langkah yang kita arungi Berdua, Terdiam dalam ragu yang membisu Tersamar dalam hening tanpa makna   Berusaha merangkai sepenggal kisah, walau tak berarah Lalu mata kita bertemu tatap Atau saat jemari kita bertautan, namun bukan karena nafsu Ada sesuatu yang berdesir disana Namun tanah terlalu kering untuk ditapaki Saat sebutir debu mencoba melawan laju angin yang menderas Percuma, Dan hanya bisa memaki takdir yang tak pernah berpihak Tak perlu menyalahkan hujan, Yang tak kunjung datang Mungkin Ia hanya sedikit terlambat Atau mungkin, Memang perasaan hati kita saja yang menderas tak berarah, Dan tak berujung Tak perlu ditangisi, sayang Semua akan ada masanya masing-masing Saat daun yang mengering gugur menanggalkan sang dahan Memilih terbang bersama angin yang bisa membawanya kemana pun Ia suka Agustus, 2013

Kau, Aku dan Setitik Rasa

Gambar
Kita, berdua diantara diam Sibuk dengan pikiran masing-masing yang entah melayang kemana Menerbangkan angan yang seakan tak pernah aku mengerti Kita, berdua diantara dua cangkir kopi Yang sama sekali tidak panas lagi Waktu terus berjalan tanpa peduli, meninggalkan aku dan sejuta pertanyaan Dan kita, masih dalam diam Waktu seakan tak mau mengerti, bahwa aku harus segera meninggalkan kota ini lagi   Perlahan aku mengangkat cangkirku, berniat untuk menghabiskan sisa kopi sebelum menjadi benar-benar dingin Menyesapnya cepat-cepat sembari berharap keheningan ini segera berakhir pula. Aku hanya perlu tahu apa yang ada dalam benakmu Kau ingin aku tetap tinggal? Kisah kita terselip di antara kaki-kaki yang terus melangkah Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya Melewatkan ribuan hari, entah apa yang dicari Jati diri? Atau hanya kesenangan semata? Lalu pertemuan denganmu di sebuah persimpangan jalan, yang ku anggap hal yang biasa dari sekian banya...

Kosong

Gambar
"Kamu kenapa, diam saja dari tadi?" Aku menggeleng pelan, mencoba memberi respon seadanya. Itu adalah awal pertemuan pertama kita. Hampir tak ada percakapan berarti yang bergulir. Hanya sekedar basa-basi tak berbobot. Sesekali aku hanya mengangguk atau menggeleng pelan untuk merespon pembicaranmu. Aku meraih botol air mineral yang tinggal setengah, lalu menenggaknya sampi habis tak tersisa. Cukup pertemuan kita ini saja yang 'garing', jangan sampai tenggorokanku ikut-ikutan kering, karena Jogja siang itu memang cukup terik.   Entah kenapa penyesalan sering kali datang terlambat. Di saat kita baru menyadari sesuatu itu tak bisa kembali lagi. Dan kita terbunuh oleh kejamnya waktu, yang tak pernah sekalipun mengijinkan kita untuk bisa kembali ke masa yang telah lalu. Mencoba mengulangi apa yang telah terjadi, mengharapkan datang lagi semua yamg pernah terlalui. Aku hanya merasa beruntung sempat mengenalmu. Mendengar ceritamu, yang sebelumnya hany...

Sebuah Kisah (Tak Sempurna)

Gambar
Dulu perkenalan kita adalah hal yang biasa, layaknya pertemanan biasa. Tak ada yang istimewa. Awalnya. Aku menyebutnya takdir ketika kamu bilang itu hanya kebetulan semata. Kita, yang sama-sama sedang mencoba berdamai dengan masa lalu. ''kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana'' ujarmu pelan. Bisa saja kita berharap sesuatu hal akan  terjadi, maka terjadilah.  Namun terkadang yang terjadi justru sesuatu hal lain yang tidak kita harapkan, tak terduga sama sekali. Bisa saja lebih baik atau bahkan mungkin lebih buruk dari yang kita harapkan sebelumnya. Seperti sekarang, siapa sangka kita yang tak pernah bertemu sebelumnya dalam beberapa jam sudah bicara banyak. ''apa kamu baik-baik saja?'' Aku menghela napas perlahan. Bertanya, berusaha memutus suasana canggung lima menit terakhir. Kali ini ceritamu terhenti. Dengan sudut matamu yang mulai menggenang. Kamu terisak pelan. Cukup. Aku tak akan memaksamu melanjutkan cerita...

Januari

Gambar
Kini aku hanya bisa sedikit berharap, semoga kali ini kamu tak lupa. Seharusnya kita bertemu sore ini. " tunggu di tempat biasa" ujarmu. Semoga kamu lekas datang, awan mendung sudah menggantung dilangit dan siap menumpahkan hujan ke bumi. Aku hanya hujan menjadi 'penghias' sore kali ini.   Aku mendengus kesal, kamu masih saja sama,selalu terlambat saat situasi seperti ini. Menjadi kebiasaan burukmu. Hanya saja aku tak terlalu suka berada ditengah keramaian seperti ini. Aku rasa kamu pun tahu itu.   Seseorang nampak berlari ke arahku, meneriakkan namaku keras-keras, hingga aku pun tak punya pilihan lain selain menoleh. Karena sangat ku hafal pemilik suara itu. "hai.." sapamu, lalu tersenyum. Aku hanya bisa terdiam. Sejenak melupakan kekesalanku tadi, untuk sekedar menatapmu ketika tersenyum. Senyuman di wajahmu itu. Dan aku, masih sama. Jantungku masih saja berdegup kencang ketika melihatmu tersenyum, debaran yang sama selama hampir...

Agustus

Gambar
  Hujan belum sepenuhnya mereda begitu banyak rintik yang menyiksa basah meraja disana.. Angin seolah tak mau kalah dengan khas nya, membelai ranting dedaunan seakan pasrah menerima angin yang menerpanya daun pun bergerak seirama angin   Sungguh.. tak sedetik pun aku lewatkan tak peduli berapa lama aku terbuai dengan apa yang sedang kusaksikan Seakan ingin ikut merasakan buaian angin membuat beberapa daun berjatuhan diam.. tanpa sebuah penolakan

Jauh

Gambar
Pagi baru saja menjelang, mentari belum menampakkan diri sepenuhnya. Masih terhalang oleh awan mendung sisa hujan semalaman penuh. Jalanan masih basah, hujan seakan   hentinya malam tadi. Sepagi ini aku sudah berada dalam sebuah bus untuk menuju stasiun, mengejar kereta paling pagi. Di sampingku, kau duduk manis, mataindahmu menatap kosong keluar jendela, dan membiarkannya sedikit terbuka. Udara dingin berhembus pelan menerobos celah-celah jendela, menerpa wajahmu dan membuat rambut hitam panjangmu yang tergerai bergerak-gerak liar. Seperti yang kau minta tadi malam,kau akan mengantar aku meski keretamu baru akan tiba beberapa jam setelah keretaku berangkat. Entah kenapa dingin pagi ini seakan membekukan suasana hati kita,semenjak tadi takada kata-katayang keluar dari bibir mungilmu, bahkan senyum manismu pun tak nampak pagi ini. Tapi yang aku tau, jemari tanganmu menggenggam hangat jemari tanganku seakan takingin melepasnya. Ah, sudah lah. Biar genggam jemari tangan kit...