Postingan

Kisah di Balik Tembok-tembok Tinggi Lasem

Gambar
Pintu berwarna hijau kusam itu belum sepenuhnya terbuka, ketika suara gonggongan anjing yang berasal dari beranda rumah menyambut kedatangan kami. Menyadari kehadiran orang asing di wilayah kekuasaannya. Padahal, kaki saya pun belum sepenuhnya turun dari pijakan kaki sepeda motor. Cahaya temaram dari lampu bohlam yang digantungkan di atas pintu, seakan tak berdaya menyinari jalanan Karangturi gang IV yang sepi ketika malam menjelang. Lagipula, hampir sepanjang sore tadi langit Lasem sedang berbaik hati, menurunkan berkah bagi bumi dan segala isinya berupa guyuran hujan yang cukup deras. Membuat sebagian besar penduduk Lasem lebih memilih berdiam diri di dalam rumah. Baca juga: Lasem dalam Lini Masa . Namun, gonggongan Roto (nama yang diberikan pada si anjing tersebut) tak berlangsung lama. Ketika saya, Mas Pop, diikuti oleh Mbak Lina dan Mas Donny melangkahkan kaki di beranda rumah, seketika itu juga Roto berhenti menggongong. Lalu memilih untuk mendekam di atas kursi ...

Ayo Naik Kereta Api!!

Gambar
Dalam sedekade ke belakang, angkutan perkeretaapian di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Transportasi berbasis rel ini sejatinya merupakan warisan kolonial Belanda yang   berhasil dipertahankan hingga era modern kini. Dengan menggunakan teknologi yang mengikuti perkembangan jaman, kini kereta api menjelma menjadi salah satu moda transportasi favorit masyarakat yang nyaman dan aman. Stasiun Jakarta Kota kala itu. Belasan tahun yang lalu, jangan bayangkan naik kereta api senyaman dan semudah sekarang. Dulu, penumpang harus antri berjam-jam untuk antri di loket pembelian. Jika kehabisan tiket tempat duduk, maka bersiaplah untuk berdesak-desakan di lantai lorong gerbong-gerbong nan tua. Atau bahkan meluber hingga bordes dan toilet. Jika tidak ingin begitu, maka carilah calo yang berkeliaran di setiap sudut-sudut stasiun. Tentu saja, kita harus merogoh kocek yang lebih dari biasanya. Di era modern ini dalam perkembangannya, transportasi kereta api terus b...

Lasem dalam Lini Masa

Gambar
Menyapa pegunungan Lasem ketika pagi hari. Sebelum benar-benar berangkat ke Lasem, saya telah membaca berbagai hal tentang Lasem dari berbagai macam sumber. Namun saya sadar, sebanyak apapun saya mencari tahu tentangnya, justru saya merasa semakin tak tahu apa-apa. Jadi, ketika akhirnya tiba di Lasem saya berusaha mengesampingkan semua yang saya ketahui tentangnya. Anggap saja saya sedang amnesia karena kepala terbentur tembok tempo hari. Ekspektasi saya tentu saja adalah bangunan-bangunan kuno, jalanan yang lengang dengan tembok-tembok tinggi di kanan-kirinya. Seakan mengurung harta terpendam yang tak ternilai dari Lasem, sebuah kota kecil di pantura Jawa Tengah. Yang terjebak dalam memori masa lalu, di tengah truk-truk besar yang berjalan merayap ataupun klakson bis-bis yang menyalak kesetanan. Saya mengawali perjalanan menuju Lasem dengan mengendarai sepeda motor seorang diri. Menyusuri jalur pantura Semarang, Kudus hingga Rembang bukan sesuatu hal yang mudah sebenarny...

Pesan Terakhir Sang Arsitek

Gambar
Tak terasa sudah setahun lebih berlalu, sejak peristiwa terbakarnya pada 9 mei 2015 silam menggegerkan masyarakat Kota Semarang. Kini bangunan Pasar Johar memang masih berdiri, namun tak lagi utuh. Ia telah kehilangan jiwanya. Bukan hanya karena rusaknya atap, atau melengkungnya tiang-tiang penyangganya yang telanjang. Melainkan karena ia tidak lagi bisa memberi ruang-ruang pertemuan bagi manusia selayaknya sebuah pasar. Hal itulah yang membuat beberapa pegiat sejarah, seni dan arsitektur di kota Semarang serta bekerja sama dengan berbagai pihak, menggagas sebuah pameran tentang karya dan hidup seorang Herman Thomas Karsten ; sang arsitek Pasar Johar. Pameran bertajuk " Indonesia Bersatoelah, Indonesia Bermoelialah " ini diadakan sejak 19 November lalu. Bertempat di Semarang Contemporary Art Gallery di kawasan Kota Lama Semarang. Sedianya hanya berlangsung sampai akhir November, namun pada akhirnya di perpanjang hingga 17 Desember nanti. Semarang Contemporary Art...

Menikmati Sepi di Pantai Batu Putih Karimun Jawa

Gambar
Semesta bicara tanpa suara Semesta ia kadang buta aksara Sepi itu indah, percayalah Membisu itu anugerah. Banda Neira - Hujan di Mimpi Berkunjung ke Karimun Jawa memang tak bisa lepas dari wisata baharinya. Pesona bawah laut di perairan Karimun Jawa sudah tidak diragukan lagi keindahannya. Namun bagi saya dan Mas Icang, hal itu sebisa mungkin dihindari. Ayunan yang miring. Seakan enggan tergantung. Lagi-lagi karena alasan dana yang terbatas, membuat kami mencoret salah satu wisata andalan di Karimun Jawa tersebut. Terlebih lagi di antara penumpang KM Kelimutu , sepertinya hanya kami berdua yang tidak menggunakan agen perjalanan. Sehingga sangat sulit mencari tambahan personil yang bersedia patungan menyewa kapal untuk island hopping. Mau menunggu wisatawan lain yang naik KMP Siginjai juga rasa-rasanya tidak mungkin, karena kapal baru akan merapat nanti siangnya. Maka dari itu, kami sudah menyusun daftar panjang mengenai pantai-pantai mana saja yang akan kami si...