Postingan

Melihat Karimunjawa dari Sisi Lain

Gambar
Sepeda motor yang kami tumpangi terus melaju di atas jalan aspal yang bisa dikatakan mulus ini. Berbeda sama sekali dengan apa yang dikatakan Mas-mas pemilik sepeda motor yang kami sewa tadi. Bahwa kondisi jalan penghubung antar desa di Karimun Jawa ini banyak yang rusak, sehingga untuk menuju Desa Kemujan diperlukan waktu sekitar satu jam. Sangat jauh dari bayangan kami, yang mengira hanya perlu 15-30 menit berkendara. Baca juga: Besekutu dengan KM Kelimutu Tapi ternyata benar, setelah meninggalkan Desa Karimun, jalanan yang berkontur naik turun bukit tersebut mulai banyak yang berlubang hingga berbatu. Seiring dengan rumah-rumah warga yang mulai jarang. Jika adapun, hanya dipinggir-pinggir jalan, tak ada gang-gang ataupun perkampungan pada umumnya. Hal itu membuat Mas Icang yang bertugas mengendarai sepeda motor harus lebih berhati-hati lagi. Di beberapa titik kami juga sering menemui pekerja yang sedang sibuk memperbaiki jalan rusak tersebut. Sesekali kami menyap...

Bersekutu dengan KM Kelimutu

Gambar
" Kapale aman tenan to?" Entah sudah berapa kali kegelisahan itu dilontarkan oleh Mas Icang . Dan entah berapa kali juga saya yakinkan dengan jawaban yang sama. " Wes , tenangno pikirmu .. Kapale gede kok , aman.. " Ya, ditengah cuaca yang semakin tidak menentu akhir-akhir ini, saya tetap memantapkan diri dengan rencana yang sudah saya buat sebulan sebelumnya. Meskipun tetap saja kekhawatiran itu tidak sepenuhnya bisa diabaikan begitu saja . Bukannya saya mau meremehkan alam. Namun dengan tiket KM Kelimutu di tangan, setidaknya memberikan sedikit jaminan bahwa kapal tidak akan mengalami penundaan jadwal jika cuaca memburuk. Maklum kami adalah pekerja Senin-Jum'at. Dan saya sudah sering mendengar cerita, bahwa banyak wisatawan yang terjebak di Karimun Jawa hingga berminggu-minggu karena gelombang laut Jawa sedang tinggi. Jika tak bisa pulang, bisa-bisa kami jadi pengangguran sekembalinya dari Karimun Jawa! KM Kel...

Sikunir Ramai: Merayakan September, Merayakan Hidup

Gambar
I met you in the city of the fall One September night We sat down on the table near the wall Where conversation flows   Adhitia Sofyan - September Entah kenapa September tahun ini tiba begitu cepat. Padahal saya masih ingin merayakan hujan di bulan Januari, berpura-pura tidak tahu ketika Maret tak terasa telah berganti April begitu saja. Atau pun menyambut angin di bulan Agustus, yang seakan tahu tugasnya tiba untuk membuat sang dwi warna berkibar di puncak tiang tertinggi. Harum September kali ini mungkin sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hampir setiap hari aroma tanah basah mampir di indera penciuman. Bahkan tak jarang bau busuk yang tercium, karena sampah yang berhari-hari menumpuk tersiram hujan deras. Sesekali juga, genangan-genangan sisa hujan semalam muncul di sisi jalanan Semarang. Beruntung, tak sampai banjir besar. *** Hampir gelap, ketika hujan deras yang mengguyur akhirnya menghadang perjalanan kami di daerah Krasak , Wonosob...

Dua Puluh Lima

Gambar
Foto diambil awal september lalu oleh Mas Aji Inilah saya, umur 25 tahun. Dan masih tetap sama, tak ada yang istimewa. seperti dua puluh dua, dua puluh tiga, atau dua puluh empat saya yang sudah lewat. Tak ada pencapaian yang harus saya rayakan. Tak ada juga etape hidup yang harus saya sesalkan. Hanya berusaha mensyukuri hidup, karena Tuhan begitu baik memberi saya umur hingga dua puluh lima. Di umur seperempat abad ini, saya belum menjadi apa-apa. Hanya seorang manusia biasa yang masih belum lelah meraba mimpi-mimpi yang masih dipercayainya. Iya, saya masih di tahap itu. berbeda dengan teman-teman seangkatan sebagai perbandingan. Di umur dua puluh lima, kebanyakan dari mereka sudah melakukan beberapa pencapaian. Lulus kuliah (bahkan ada yang sudah S2), mendapat pekerjaan yang mapan, atau bahkan sudah berkeluarga. Semua itu mereka raih karena (mungkin) mereka mengejarnya dengan gigih. atau bahkan karena dikejar? dikejar target umut misalnya. di umur sekian harus su...