Prasangka

Oh, iya. Hai, selamat pagi!. Maaf, saya sampai lupa menyapa. Sebentar, saya harus mengatur napas dulu. Tarik, hembuskan. Tarik, hembuskan. Oke. Maklum, saya baru saja berlari sepanjang area parkir sampai peron stasiun tadi. Entah sudah berapa kali saya hampir menabrak orang, dan entah apa saja sumpah serapah yang mereka lontarkan pada saya karena secara tidak sopan sudah menyerobot antrean pemeriksaan tiket. Beruntung sekali saya kereta belum berangkat. Jika saya tidak berlari, bisa berantakan semua rencana saya. Dan melayanglah sudah tiket seharga seratus ribu yang sudah saya pesan sebelumnya. Ya, mungkin seratus ribu yang memang tidak seberapa seberapa untukmu yang hidupnya lebih dari berkecukupan. Tapi bagi saya yang hanya berpenghasilan pas-pasan ini, uang sebesar itu bisa untuk jatah ongkos hidup tiga hari ke depan.