Selepas Senja di Bulan November

Terang baru saja berganti gelap, siang telah direnggut oleh kejamnya malam. Menyisakan berjuta tanya di benak : mengapa senja kali ini tanpa jingga? Apakah kini senja dan jingga sudah tak berteman lagi? Ah tak mengapa. Bukan kah senja tak melulu tentang jingga? Senja kali ini nampaknya lebih memilih berkawan dengan awan mendung. Atau sebenarnya Ia sengaja ingin berbasah-basahan dengan hujan Di selingi tarian dedaunan yang di tiup angin. Menertawakan dua manusia yang terdiam di sudut senja sana. Terang dan gelap. Siang dan malam Berputar silih berganti, melengkapi satu sama lain begitu seterusnya. Tapi lain halnya dengan kita, yang hanya bisa terdiam Kita, ternyata tak pernah kemana-mana sebetulnya Perihal kebersamaan kita, yang terlalu banyak penundaan. Sambil terus berharap waktu akan terus berpihak. Seiring berlalu, mestinya sesuatu bisa berubah. Tapi ternyata tidak, entah kenapa hati ini masih menyimpan gelisah yang sama. ...